Dialog peran perempuan dalam penguatan ideologi bangsa, upaya cegah penyebaran radikalisme.

TARAKAN – Perempuan, anak muda termasuk mahasiswa perlu penguatan ideologi untuk mencegah penyebaran radikalisme. Termasuk semua instansi juga dituntut untuk bersinergi dan menjadi tanggung jawab bersama dalam upaya pencegahan agar tidak meresahkan masyarakat.

Ketua Bidang Perempuan dan Anak Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Tarakan, Dr. Nurasikin, S.HI., M.H mengatakan perempuan juga mempunyai peran yang penting untuk mencegah radikalisme dan terorisme.

“Tujuan terorisme saat ini lebih kepada perempuan, hal ini dilihat dari konsep perempuan yang lebih mengikuti perasaan dibanding rasional. Perempuan memiliki beban mengikuti suami dan bisa jadi ternyata suami sudah terpapar radikalisme,” terangnya dalam dialog Ngaji Idelogi Bangsa Peran Perempuan Dalam Penguatan Ideologi Bangsa, yang digelar Kamis (8/12)

Ia menambahkan, bagi anak usia sekolah diawasi melalui kajian keagamaan dan di sekolah memfilter siapa yang menjadi gurunya. Kemudian orangtua yang memiliki anak sudah mulai ekslusif, tidak mau bergaul dan suka menyendiri segera dilakukan pengawasan lebih. Sedangkan di masyarakat, juga perlu waspada jika ada orang baru datang dan tidak pernah berinteraksi.

Kemudian di kampus, kata Nurasikin peran dari Dosen hingga Rektor ikut sangat penting untuk mengawasi tenaga pengajar sebagai orang yang transfer ilmu. Jangan sampai malah melakukan doktrinisasi terhadap mahasiswa.

“Doktrin bisa menjadi penyebab penyebaran radikalisme. Hati-hati dengan pengajian yang dilakukan kelompok maupun individu tertentu. Bila kajian atau kelompok tertentu itu menjelekkan agama dan pemerintah yang dituntut harus dibasmi, artinya kajian itu tidak benar,” tandasnya.

Sementara itu, Penyuluh Agama Islam Kementrian Agama Tarakan, Rohmiyati yang menyampaikan tema moderasi beragama dalam dialog mengatakan dalam kehidupan sehari-hari memang harus memiliki sikap yang moderat. Berada ditengah dan tidak memiliki paham terlalu ke kiri atau terlalu ke kanan.
“Misalnya saling membantu, tolong menolong dan menghormati. Moderasi beragama bukan berarti memoderasi agama, karena agama sudah mengandung prinsip moderasi yaitu keadilan dan keseimbangan,” tuturnya.

Sementara itu, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri, Fania Nur Haq menambahkan kegiatan dialog sebagai penguatan ideologi bangsa bagi perempuan. Peran penting perempuan sebagai ideologi bangsa, menurutnya bisa mudah di doktrin untuk goyah ideologi bangsanya menjadi paham radikalisme.
“Menggoyahkan perempuan itu mudah, dibenturkan dengan agama, sosial dan budaya. Perlu untuk memberikan wawasan kebangsaan bagi perempuan untuk membentengi diri dari paham radikalisme,” ungkapnya.

Terlebih lagi Tarakan yang merupakan daerah transit serta berbatasan dengan negara tetangga memiliki potensi yang mudah untuk disusupi. Sangat mudah orang membawa paham radikal dari luar, terutama dari timur tengah.

“Islam yang kita pelajari memang rahmat bagi seluruh alam. Semua agama juga tidak membenarkan kekerasan dan Pancasila ideologi bangsa dan tali pengikat dari keberagaman budaya di Indonesia,” tegasnya.