Momentum Hari Pahlawan, Semua Pihak Gandengan Tangan Tangkal Radikalisme

TARAKAN – Mengingat semangat juang para pahlawan, di Hari Pahlawan merupakan salah satu momentum untuk meningkatkan kecintaan kepada tanah air. Perjuangan santri dengan gigih mendukung upaya kemerdekaan hingga mendapatkan izin dan ridha Allah memenangkan Indonesia dari tangan penjajah.
“Ulil Amri di masa modern berbeda dengan perjuangan di masa penjajah. Hasyim Asy’ari mengatakan berjuanglah di saat kami hidup, maka akan dikenang sepanjang masa. Jika meninggal, mati syahid dan mendapatkan surga Allah,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarakan, Muhammad Anas, Kamis (10/11).
Perjuangan Ulil Amri saat ini harus memiliki intelektual dengan aturan negara dan harus ada ilmu. Maka sumber daya manusia yang tidak dibarengi keimanan maupun tanpa ilmu, juga akan hancurkan negara. Selain itu, Ulim Amri juga harus berperan dalam menangkal radikalisme.
“Justru Ulil Amri harus ada di garda terdepan, sebagai penanggung jawab di negara. Kalau cendekiawan hanya sebagai amar ma’ruf nahi munkar, artinya menyampaikan saja tapi tidak punya wewenang. Namun tidak bisa melakukan tindakan fisik,” tuturnya.
Semua pihak harus bergandengan tangan untuk menangkal radikalisme. MUI dengan pihak kepolisian, Badan Intelejen Negara (BIN) maupun TNI untuk saling menginformasikan sesuatu agar tidak ada penyebaran radikalisme.
Ia meminta semua pihak menjunjung tinggi perjuangan ulama membantu memerdekakan Indonesia dan menjadikan negara sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur, sebuah negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya. Hindari paham radikalisme, saling menyalahkan bukan ajaran Islam, hindarkan hal memfitnah orang.
“Kalau perlu pembinaan, maka yang terdepan adalah ulama untuk memberikan nasehat. Kalau sudah berbentuk anarkis, maka pemerintah dalam hal ini Ulil Amri. Kami himbau semua kepala rumah tangga memagari rumah tangganya masing-masing. Kalau semua kepala rumah tangga sudah bertindak, Insya Allah aman,” tegasnya.
Ketua PC Ansor Tarakan, Zaid Hadi menambahkan empat pilar kebangsaan, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan Undang undang Dasar 1945 merupakan hal final. Ia tegaskan, paham radikalisme berarti merubah ideologi negara. Maka jangan tinggal di Indonesia, artinya siapa yang mau tinggal berarti mau diatur negara yang sudah ada dan terbentuk.
“Kalau tidak sepaham dengan apa yang pendiri bangsa lakukan untuk negara ini, kebhineka ragaman yang sudah ada, suku budaya dan kultur yang berbeda di setiap daerah bahkan Islam masuk dengan kultur dan budayanya. Jangan sampai kita masuk dengan budaya lain diluar itu,” tegasnya.
Dalam menangkal penyebaran radikalisme, pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan semua pihak. Termasuk dengan Muhamadiyah maupun organisasi Islam lainnya dan menyepakati negara Indonesia sudah final. Tidak perlu ada pergantian seperti negara Khilafah.
“Lihat contoh di negara lain mau mengganti menjadi negara khilafah kan perang terus. Alhamdulillah Indonesia dengan empat pilar kebangsaan yang sudah ada, inilah yang dipertahankan,” ungkapnya.